Kisah Orang yang Sombong

mutholaah
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 2 / الجزء الثاني
Kategori : Mutholaah kelas 3
Judul Cerita : Al Mudda'i /المدعي 

Terjemahan :

Orang yang Sombong


Dua orang pria melewati hutan yang lebat pohonnya. Salah seorang diantara mereka melihat jejak kaki binatang buas di atas tanah. Ia pun berkata kepada temannya bahwa ia takut jika beruang keluar kepada mereka dan membunuh mereka. Sedangkan mereka tidak mempunyai senjata untuk membela diri mereka. 

Maka temannya berkata : "Jangan takut selama aku bersamamu. Engkau tahu kadar keberanian, kekuatanku dan ….."

Dan sebelum ia menyelesaikan perkataannya, mereka mendengar suara beruang yang datang. Maka orang yang sombong itu meninggalkan temannya. Ia berlari diantara pohon dan menaiki puncaknya, kabur dari beruang itu. Ada pun temannya telentang di atas tanah dan menahan nafasnya.

Ketika beruang itu datang, ia berkeliling di sekitarnya dan mencium badannya, ia tidak mendapati nafas di sana. Ia mengira bahwa ia adalah mayat, maka ia meninggalkannya dan pergi. Karena ia tidak makan mayat.

Setelah beruang itu pergi orang yang sombong itu turun dari pohon. Ia menemui temannya dan ia sangat malu. Ia pun bertanya sambil bercanda tentang apa yang dikatakan beruang di telinga temannya.

Temannya berkata : "Beruang ini bijaksana. Ia telah memberitahuku bahwa orang yang memuji dirinya sendiri adalah pendusta yang tidak bisa dipercaya. Jangan bergantung kepadanya."

Review :

Saya cukup berkesan dengan cerita ini karena sikap memalukan orang yang sombong dalam cerita. Ada banyak orang yang sombong dan suka mengaku-ngaku. Namun ketika menghadapi masalah ia adalah orang yang pertama-tama lari.

Orang yang sombong seperti ini memang tak dapat dipercaya. Tidak usah berharap padanya ketika menghadapi masalah. Lebih baik diselesaikan sendiri dari pada berharap dan kecewa.

Adab Adalah Dasar Keberhasilan

/الأدب أساس النجاح
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 2 / الجزء الثاني
Kategori : Mutholaah kelas 3
Judul Cerita : Al Adabu Asasun Najahi /الأدب أساس النجاح 

Terjemahan :

Adab Adalah Dasar Keberhasilan


Seorang pedagang mengumumkan bahwa ia ingin mempekerjakan seorang sekretaris muda. Maka hadirlah pemuda yang jumlahnya tidak sedikit untuk posisi ini. Mereka hadir untuk menemuinya pada waktu yang telah ditentukan. Sang pedagang memanggil mereka ke kantornya satu persatu. Ia berbicara dengan mereka dalam banyak persoalan untuk mengetahui kadar kecerdasan dan adab mereka. 

Akhirnya ia memilih salah satu dari mereka setelah percakapan singkat. Karena cepatnya ini membuat heran temannya yang hadir di sana. Ia berkata : "Atas apa kamu membangun pilihanmu atas pemuda ini? Sesungguhnya kamu tidak berbicara dengannya kecuali sedikit."

Sang Pedagang berkata : "Sesungguhnya ia menyapu sandalnya di atas keset ketika masuk, kemudian menutup pintu dengan lembut dan tenang. Maka aku memahami bahwa ia orang yang bersih dan teratur. Kemudian ia menyatakan salam kepadaku dan menjawabku dengan semangat dan penghormatan. Maka aku memahami bahwa ia bagus adabnya. Ia diam ketika menunggu gilirannya dan tidak melawan yang lain untuk hadir di hadapanku. Maka aku memahami bahwa ia rendah hati. Ketika telah berkumpul sifat-sifat ini pada seseorang, maka ia lebih utama dari pada orang yang lain. 

Review :

Pedagang di atas adalah tipe orang yang memilih pekerja berdasarkan adabnya. Karena memang demikianlah keutamaan seseorang dinilai dari adab.

Oleh karenanya jika ingin sukses dan berhasil, maka kunci utamanya adalah memiliki adab yang baik. Ada banyak orang pintar. Namun jika semua orang pintar dikumpulkan, maka orang yang beradablah yang akan berhasil. Di mana pun berada, adab selalu lebih utama.

Abdullah dan Burung Kecil (1&2)

Abdullah wal usfur
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 1 / الجزء الأول
Kategori : Mutholaah kelas 2
Judul Cerita : Abdullah wal Ushfur /عبد الله والعصفور 

Terjemahan :

Abdullah dan Burung Kecil (1)


Suatu hari Abdullah keluar untuk jalan-jalan di taman rumahnya. Ia melihat sarang burung di puncak pohon yang tinggi. Di dalamnya ada burung-burung kecil yang berkicau. Ketika ia mendengar suaranya ia ingin mengambil satu diantaranya.  

Ia naik dengan tangga ke atas pohon itu sampai ke sarang burung kemudian mengulurkan tangannya padanya. Maka burung-burung itu pun berkicau ketakutan dan panik. Tetapi hati Abdullah tidak kasihan akan keadaan mereka. Ia mengambil salah satu burung dan turun dengannya, padahal ia mendengar kicau teriakan burung-burung yang lain. Seakan-akan mereka menangis karena berpisah.

Abdullah memeluk burung itu dan bermain dengannya, ia tidak tahu akan kepedihan dan kesedihan yang menimpa burung tersebut karena berpisah dengan keluarganya. Abdullah berjalan dengan cepat dan burung tersebut diantara dua tangannya. Burung itu berteriak, menggeliat, dan memukul dengan sayapnya, namun tak ada penolong yang menolongnya.

Abdullah dan Burung Kecil (2)


Abdullah menemui ayahnya di rumah dan memperlihatkan kepadanya burung kecil itu. Ayahnya mengambilnya di tangannya dan berkata : "Burung ini indah wahai Abdullah. Dari mana kamu memperolehnya?"

Anaknya berkata : "Aku mendapatkannya di sarang burung di kebun bersama keluarganya. Maka aku menaiki pohon dan mengambilnya."

Ayahnya berkata : "Bagaimana keadaanmu jika seorang laki-laki membawamu tiba-tiba dari rumah. Kemudian ia pergi bersamamu ke mana pun ia ingin."

Anaknya berkata : "Aku akan sangat sedih dan menderita karena berpisah dengan keluargaku. Maka tidaklah bahagia hidupku selama aku jauh dari mereka. Tetapi mengapa Engkau menanyakan persoalan ini kepadaku?"

Maka Ayahnya berkata : "Lalu kenapa Engkau mengambil burung kecil ini dari keluarganya? Apakah kamu mengetahui ini adalah bagian kezoliman dan kekejaman."

Maka sang anak pun sadar bahwa ia telah berbuat kejahatan. Ia pun meminta pembantu untuk mengembalikan burung kecil itu kepada keluarganya.

Review :

Kisah di atas menceritakan tentang seorang anak yang mengambil seekor burung dari sarangnya untuk bermain-main dan kesenangan dirinya. Di awal ia tidak menyadari penderitaan yang dialami oleh burung kecil tersebut.

Pada cerita kedua, sang ayah memberinya pertanyaan dan perumpamaan. Sehingga anak tersebut sadar bahwa perbuatannya mengambil burung tersebut salah. Ia pun mengembalikan burung tersebut.

Perpisahan anak dengan keluarganya adalah sesuatu yang pastinya membuat  sedih anak dan keluarganya. Maka janganlah kita memisahkan sebuah keluarga. Baik itu manusia, maupun binatang. Karena kita pun tentu tidak mau mengalami hal serupa. 

Kisah Dua Ekor Kambing

dua kambing
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 1 / الجزء الأول
Kategori : Mutholaah kelas 2
Judul Cerita : Al Anzani /العنزان 

Terjemahan :

Dua Ekor Kambing


Dua ekor kambing berselisihan pada jalan yang sempit. Tidak memungkinkan kecuali dengan melewati salah satu diantara mereka, karena adanya dinding batu besar yang tinggi pada salah satu sisi dan jurang yang dalam pada sisi yang lain. Maka berbaringlah salah satu dari kambing itu di atas tanah. Kemudian kambing yang satunya berjalan di atasnya dengan ringan dan berhati-hati. Kemudian ia bangun dan berjalan meneruskan jalannya dengan selamat.

Adapun dua ekor kambing yang lain berada di dua tepian sungai berseberangan. Terdapat batang pohon yang menghubungkan di antara dua tepian laksana sebuah jembatan yang sempit. Kedua kambing itu berjalan dari kedua ujungnya hingga ke tengah batang pohon. Sehingga tak ada jalan bagi mereka lewat bersama-sama. Tidak ada diantara mereka yang mau kembali agar salah satu dari mereka bisa lewat. Maka terjadi perkelahian sengit di antara mereka. Keduanya pun terjatuh ke permukaan sungai. Mereka mati sebagai balasan kekeraskepalaan mereka.

Seandainya salah satu diantara mereka mengalah kepada yang lain seperti yang dilakukan oleh dua ekor kambing yang pertama, tidak akan menimpa mereka musibah tersebut.

Review :

Kisah dua ekor kambing ini menceritakan bahwa dalam kehidupan ada kalanya kepentingan kita berseberangan dengan kepentingan orang lain. Ketika semua pihak berkeras hati dan tak ada yang mau mengalah, bukannya tujuan yang akan tercapai, tapi musibah yang bisa terjadi.

Sebaliknya, jika salah satu pihak mau mengalah sebentar, akan ditemui solusi terbaik. Semua orang bisa selamat dan tujuan pun berhasil diraih.

Manisnya Bekerja

Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 1 / الجزء الأول
Kategori : Mutholaah kelas 2
Judul Cerita : Halawatul Kasbi /حلاوة الكسب 

Terjemahan :

Manisnya Bekerja


Seorang pria memasukkan anak laki-lakinya pada suatu pekerjaan. Ia memintanya agar menyerahkan upahnya setiap hari. Anak laki-laki itu memiliki seorang ibu yang bodoh yang menyayanginya. Ia tidak ingin anaknya bekerja agar tidak kelelahan. Maka anak laki-laki itu kabur dari pekerjaannya untuk berkumpul dengan teman-temannya yang pengangguran. Mereka menghabiskan hari dengan bermain.

Ketika datang waktu sore anak laki-laki itu kembali ke rumah. Ibunya memberinya sejumlah uang sebanyak upahnya untuk diberikan kepada ayahnya. Sang ayah mengambil uang tersebut dan melemparnya dari jendela. Hal tersebut terus berlangsung dengan bantuan ibunya yang bodoh. Sampai uang ibunya habis.

Ibunya berkata : "Pergi dan bekerjalah hari ini. Karena uangku sudah habis semua."

Maka anak laki-laki itu pergi dan bekerja sepanjang hari. Ia pulang dan menyerahkan upahnya kepada ayahnya. Pria itu mengambil uangnya. Kemudian dia pun ingin melempar uang tersebut dari jendela sebagaimana biasanya.

Maka berteriaklah anak laki-laki itu dan berkata : "Jangan lakukan wahai ayahku. Sesungguhnya aku memperolehnya hari ini dengan usahaku. Maka aku tidak mudah bagiku kehilangannya."

Review :

Anak muda cenderung suka bermain dan menganggur. Mereka tidak bisa menghargai uang dan harta yang diberikan oleh orang tua dan suka menghambur-hamburkannya. Namun ketika mereka merasakan betapa susahnya mencari uang, maka mereka akan mulai menghargainya.

Seperti pada cerita di atas, ketika ayahnya membuang uang yang telah diberikan ibunya, dia merasa biasa saja. Namun ketika ayahnya akan membuat uang hasil kerja kerasnya, barulah ia merasa tidak rela karena tahu bagaimana rasanya bekerja dan berusaha.

Membebaskan Burung

mutholaah
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 1 / الجزء الأول
Kategori : Mutholaah kelas 2
Judul Cerita : Ithlaqut Thuyur /إطلاق الطيور 

Terjemahan :

Membebaskan Burung


Seorang pria Amerika melihat seorang anak laki-laki sedang menjual burung di dalam sangkar. Ia berhenti sejenak dan memandang burung-burung itu dengan pandangan sedih. Karena ia melihat burung-burung tersebut terbang dari satu sisi ke sisi lainnya. Kadang-kadang menengok, dan kadang-kadang berusaha keluar diantara jeruji. 

Akhirnya pria itu bertanya kepada anak laki-laki : "Berapa harga burung-burung ini?"

Anak itu menjawab : "Harga seekor burung tujuh qirsy, wahai Tuan."

Pria itu berkata : "Aku tidak bertanya harga satu burung. Tapi aku bertanya harga semuanya. Karena aku ingin membeli seluruhnya."

Anak itu menghitung burung-burungnya, kemudian berkata : "Harganya 63 qirsy."

Pria itu membayar harganya kepada anak laki-laki. Anak itu pun senang atas untung yang diperolehnya.

Ketika pria itu menerima sangkar burung, ia membuka pintunya. Kemudian keluarlah burung-burung tersebut. Maka anak itu heran akan perbuatannya. Ia pun menanyakan sebabnya.

Pria itu menjawab : "Aku telah menjadi seorang tahanan selama tiga tahun. Maka aku berjanji kepada diriku sendiri agar tidak pelit dalam membebaskan tahanan ketika aku mampu membebaskannya."

Review :

Cerita singkat di atas tentang seseorang yang pernah merasakan betapa susahnya hidup dalam tahanan. Maka ia pun berjanji akan membebaskan tahanan lain selama ia mampu. Maka ketika ia melihat burung dalam sangkar, ia teringat penderitaannya di tahanan. Ia pun membebaskan burung-burung tersebut.

Seseorang yang pernah merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, tentu dapat merasakan kesusahan orang lain. Oleh karenanya timbul rasa iba di hatinya untuk menolong orang lain.

Btw, berapakah jumlah semua burung yang dijual anak laki-laki pada cerita di atas?

Anak yang Cerdas

Anak yang Cerdas
Judul Kitab : Al-Qira'ah Al-Rasyidah / القراعة الرشيدة
Penulis : Abdul Fattah Shobri dan Ali Umar
Jilid : 1 / الجزء الأول
Kategori : Mutholaah kelas 2
Judul Cerita : Waladun Najiibun /ولد نجيب 

Terjemahan :

Anak yang Cerdas


Suatu hari, seorang Khalifah dari Bani Abbas mengunjungi salah seorang menterinya di rumahnya. Menteri itu memiliki seorang anak yang cerdas. Ketika Khalifah duduk, ia mendudukkannya di sampingnya. 

Khalifah bertanya : "Apakah rumah khalifah yang lebih bagus atau rumah ayahmu?"

Anak itu segera menjawab : "Ketika Khalifah berada di rumah ayahku, maka rumah ayahku lebih bagus."

Kemudian Khalifah memperlihatkan cincin berharga di kelingkingnya. Ia bertanya : "Apakah kamu melihat yang lebih baik dari cincin ini?"

Anak itu berkata : "Ya, tangan yang cincin itu berada padanya lebih baik daripada cincin."

Maka kagumlah Khalifah dari kebagusan jawabannya. Ia berkata padanya : "Apakah kamu mau menjadi khalifah sesudahku?"

Anak itu berkata : "Anak khalifah lebih utama daripada saya. Dan dia adalah pemilik sebenarnya dari khilafah. Saya bukanlah termasuk orang yang berkhianat."

Bertambahlah kegembiraan Khalifah akan jawaban ini, yang menunjukkan akan kecerdasan dan kesetiaan. Ia menoleh kepada ayahnya dan berkata : "Anakmu ini haruslah menjadi seseorang yang berkedudukan penting ketika ia telah dewasa."

Review :

Anak yang cerdas pada kisah di atas adalah anak sang menteri. Di mana ia bisa menjawab pertanyaan khalifah dengan sangat baik sekali. Ia memberikan jawaban yang tidak merendahkan dirinya, namun juga tidak menentang Khalifah. Jawabannya adalah jawaban yang bisa diberikan oleh seseorang yang memiliki pemahaman yang mendalam, bukan sekedar hafalan pelajaran.

Bersama dengan kecerdasannya itu, ia juga menunjukkan kesetiaan. Meskipun diberi iming-iming kekuasaan ia tetap tahu diri dan batasan.

Kisah anak di atas benar-benar contoh yang baik tentang kecerdasan dan kesetiaan.

Review Kamus Arab - Indonesia Mahmud Yunus

kamus mahmud yunus
Judul : Kamus Arab Indonesia / قاموس عربي -  إندونسي
Kategori : Kamus 
Penyusun : Prof. DR. H. Mahmud Yunus
Tahun : 1972
Penerbit : PT Mahmud Yunus wa Dzurriyyah

Review :

Diantara berbagai macam kamus Arab-Indonesia, kamus yang paling berkesan bagi saya adalah Kamus Bahasa Arab - Indonesia yang ditulis oleh H. Mahmud Yunus. Secara singkat, saya biasa menyebutnya kamus Mahmud Yunus.

Kamus ini berkesan bagi saya karena merupakan kamus Bahasa Arab pertama yang saya miliki. Menurut saya, kamus ini sudah lumayan lengkap, setidaknya kosa kata di buku pelajaran saya semuanya bisa ditemukan di sini.

Pada bagian awal kamus ini terdapat berbagai gambar dengan kosa kata Bahasa Arabnya. Ada gambar buah-buahan, binatang, kendaraan,  dll. Kosa kata bergambar menurut saya lebih mewakili maksud dari pada terjemah bahasa Indonesia. 

Di bagian akhir kamus terdapat sedikit penjelasan mengenai wazan kata Bahasa Arab sesuai ilmu shorof. Sangat mendukung untuk memahami asal kata dasar berbagai kosa kata.

Jika dibandingkan dengan berbagai kamus yang ada sekarang, kamus Mahmud Yunus memang biasa saja, tidak sebesar dan selengkap kamus Al Munawwir. Tapi ukurannya yang standar membuatnya lebih praktis dibawa dan dimasukkan ke dalam tas.

Tentu saja membuka kamus cetak perlu keahlian khusus dibandingkan kamus elektronik. Dengan kemajuan teknologi aplikasi kamus offline dan online sangat mudah diperoleh. Lebih mudah dibawa dan lebih mudah digunakan.

Untuk mencari arti kosa kata dalam kamus Arab Indonesia versi cetak, seseorang harus padam dasar kata yang ingin dicari. Seperti halnya kata استغفار yang harus dicari dari huruf غ karena berasal dari kata غفر. Mirip seperti Bahasa Indonesia, jika ingin mencari kata "bekerja" harus dimulai dari huruf "k" karena kata dasarnya adalah "kerja".

Hal ini berbeda dengan aplikasi kamus yang tidak memerlukan kemampuan mencari kata dasar. Cukup ketikkan saja langsung katanya, maka hasilnya akan muncul.

Kamus Mahmud Yunus disusun oleh Prof. Mahmud Yunus yang merupakan salah satu tokoh pembaharuan dalam pendidikan Islam di Indonesia. Beliau adalah seorang kelahiran Sumatera. Mungkin karena beliau berasal dari generasi lama, maka terjemahan Bahasa Indonesia di kamus ini banyak dipengaruhi oleh kosa kata melayu lama seperti kata biduk, genta, dan sebagainya. Bagi yang jarang membaca buku lama, mungkin agak asing dengan kosa-kata ini.

Memiliki kamus bahasa Arab bagi pembelajar bahasa Arab adalah suatu keniscayaan. Kamus Mahmud Yunus mewakili kamus dengan kelengkapan yang memadai bagi yang sedang belajar Bahasa Arab.